Masukan untuk MPR di Acara Gathering Netizen MPR dan BloggerBDG

Gathering Netizen MPR dan BloggerBDG

Masukan untuk MPR di Acara Gathering Netizen MPR & Blogger BDG. Apa yang dibayangkan ketika mendengar kata MPR? Ada beberapa hal yang saya bayangkan ketika mendengar kata MPR yaitu sekilas ingatan semasa duduk di bangkusekolah dasar mengenai mata pelajaran PMP yang membahas bab badan perwakilan rakyat yang disebut MPR dan DPR. Di dalam bab tersebut disebutkan kepanjangan dari MPR dan DPR, tugas dan tanggung jawab badan tersebut. Namun, secara real, saya tidak tahu wujudnya seperti apa. Karena pada zaman itu, MPR seperti kedudukan yang sangat agung yang tidak bisa diketahui secara jelas, disentuh, bahkan dibicarakan oleh rakyat.

Zaman terus berganti, reformasi terjadi di negera ini. Rezim sebelumnya yang sifatnya lebih otoriter digantikan oleh sistem yang lebih demokratis berkat reformasi. Beberapa tahun setelah reformasi, rakyat mendapat akses yang lebih terbuka untuk berkenalan dengan badan perwakilan rakyat seperti MPR. Melalui berita-berita di televisi, berita daring, dan sosial media membuat rakyat lebih kenal dengan para tokoh yang dipilih menjadi wakil di MPR. Bahkan,rakyat sering disuguhi adegan-adegan yang sering kurang layak di balik sidang badan perwakilan rakyat. Seperti berita miring mengenai perilaku beberapa wakil rakyat yang dipublikasikan media, atau perkelahian yang terjadi di balik ruang sidang, dan lain-lain. Hal-hal tersebut bisa menjadi sekadar tontonan tapi juga pemikiran mendalam mengenai apa yang terjadi di kancah perpolitikan di negeri kita tercinta ini.

Melihat segala tontonan tersebut, saya sebagai salah satu rakyat Indonesia kadang mengelus dada, kadang prihatin, kadang  juga ingin memahami betapan beratnya tugas mereka yang mewakili aspirasi rakyat, yang berbicara dan mengambil keputusan atas nama rakyat. Tentunya tanggung jawab luar biasa sedang dipikul oleh mereka.Hingga, saya mendapat undangan menghadiri acara Gathering Netizen MPR dan BloggerBDG. Bagi saya yang belum pernah menghadiri acara seperti ini tentunya merasa sangat antusias karena ingin kenal lebih dekat dengan MPR. Sore itu, saya pun melajukan motor saya menuju Fave Hotel di Jalan Cihampelas Bandung untuk ikut hadir di acara gathering tersebut. Acara yang diadakan pada hari Senin, 11 Desember 2019 tersebut dihadiri para anggota blogger Bandung. Alhamdulillah, saya berkesempatan hadir dan bisa bersilaturahim juga dengan teman-teman yang lain. Sudah lama saya tidak ikut cara blogger dan rasanya senang sekali bisa berkumpul bersama teman-teman blogger di acara yang luar biasa ini.

Kenapa saya bilang luar biasa?Karena saya tidak menyangka sama sekali, acara ini dihadiri langsung oleh Ketua MPR RI Bapak Zulkifli Hasan (disapa PakZul) yang didampingi oleh Sekretaris Jenderalnya Bapak Ma’ruf Cahyono. Saat keduanya masuk ke ruangan, suasana langsung riuh, sendiri pun takjub dengan kehadiran beliau. Saya yang baru pertama kali mengikuti acara Gathering Netizen MPR dan BloggerBDG merasa sangat beruntung bisa berkesempatan hadir.

Gathering Netizen MPR 2

Acara dibuka dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dengan dirigen salah satu teman BloggerBDG yaitu Ima. Saya selalu merinding setiap kali menyanyikan lagu ini. Dulu sewakti masih sekolah, setiap mengikuti upacara menyanyikan lagu ini dengan khidmat. Setelah kuliah dan bekerja, rasanya sangat jarang menyanyikan lagu ini secara khidmat bersama-sama.

Acara begitu santai, sehingga saya sendiri sama sekali tidak merasa bahwa ini acara yang dihadiri oleh pejabat penting. Padahal yang duduk di atas panggung adalah RI 5, pejabat tinggi negara ini. Namun, Pak Zul bersikap santai sehingga kami, para blogger pun tidak merasa tegang. Malah, di awal cara, Pak Zul meminta kami para bblogger mengutarakan segala keresahan,kegelisahan, dan pertanyaan yang ingin diajukan kepada MPR.

“Kali ini saya tidak akan bicara tapi giliran saya mendengarkan semua keresahan dan pertanyaan dari para blogger dan netizen,”begitu ucap Pak Zul. Pak Zul pun mempersilakan kami untuk mengacungkan tangan dan bertanya. Ada 10 blogger yang berkesempatan mengajukan pertanyaan. Saya sendiri suka blank kalau disuruh bertanya. Benar saja, kesepuluh penanya tersebut mewakili pertanyaan-pertanyaan yang juga sering hadir di kepala saya sebagai rakyat.

Pak Zul Menjawab

Gathering MPR Netizen 3

Pak Zul menampung semuan pertanyaan baru kemudian menjawabnya.Blogger pertama yang berkesempatan mengeluarkan unek-unek dan pertanyaan adalah Bunda Intan Rosmadewi. Bunda Intan mempertanyaan sikap MPR terkait permasalahan gas yang sulit sekali didapatkan oleh rakyat. Pak Zul pun menjawab pertanyaan dari Bunda Intan bahwa memang MPR berkewajiban untuk mengawal konstitusi seperti Presiden untuk menjalankan tugasnya. MPR juga berkewajiban memberikan perlindungan terhadap hak rakyat. Oleh karenanya, MPR pun memikirkan permasalahan kesulitan gas yang terjadi di Indonesia dan selalu mencari solusi terhadap permasalahan tersebu.

Pertanyaan berikutnya dari Ibu Maria yang mempertanyakan sikap MPR terhadap persoalan lingkungan di negeri ini yang sering terabaikan, sementara dampak kerusakan lingkungan sangat nyata dirasakan oleh rakyat. Pak Zul pun bersikap positif terhadap isu lingkungan dan berhadap rakyat pun turut andil dalam menyelesaikan masalah lingkungan. Hal tersebut karena persoalan lingkungan bukan hanya milik pemerintah tapi juga tanggung jawab bersama rakyat. Menurut Pak Zul diperlukan kesadaran bagi rakyat untuk menjaga lingkungan dengan baik. Jika rakyat menganggap persoalan lingkungan adalah urusan pemerintah maka sampai kapan persoalan lingkungan akan ada solusinya.

Bang Aswi pun berkesempatan bertanya dan menanyakan perihal pajak penulis yang belum jelas dan membebani penulis. Penghasilan penulis sendiri masih belum stabil di negara ini sementara penulis memikul tanggung jawab besar untuk mencerdaskan rakyat melalui konten-konten positif. Pak Zul menanggapi keluhan tersebut dengan baik dan menyatakan bahwa MPR terus memperjuangkan royalti penulis, termasuk penulislagu sehingga di negara ini tercipta iklim saling menghargai karya tulis dan karya seni.

Pak Zul pun menanggapi pertanyaan dari Mba Rina mengenai praktek pilkada yang sekarang dilakukan di negeri ini. Menurut Pak Zul, saat ini memang terjadi pilkasa langsung dengan memilih langsung wakil rakyat. Pada rezim sebelumnya, pemilihan pejabat negara dilakukan secara tidak langsung namun seiring dengan demokrasi yang terjadi di Indonesia, pemilihan pun dilakukan langsung oleh rakyat.

Pertanyaan mengenai plagiat karya tulis seperti buku dari Mba Triani Retno ditanggapi positif oleh beliau. Menurut beliau, urusan plagiasi memang masih menjadi peer besar bagi bangsa ini. Berbeda dengan di negara –negara maju seperti Jepang yang memegang nilai-nilai tinggi dalam bersikap. Bangsa lain memiliki rasa malu untuk berbuat curang seperti plagiasi. Yang diperlukan adalah kesadaran tinggi dari seluruh lapisan masyarakat untuk memiliki sikap saling menghargai terhadap sebuah karya.

Tanggapan Pak Zul terhadap pertanyaan Teh Putu Ayu terhadap pelajaran PMP  yang sudah tidak ada di sekolah-sekolah yaitu menyayangkan hal tersebut. Selain itu MPR juga sedang menggalakan badap PKP untuk menyosialisasikan Pancasila ke masyarakat. Pak Zul juga menyayangkan pilkada Jakarta yang sarat dengan isu SARA padahal menurut beliau, pilkada merupakan pertarungan konsep dari sesama anak negeri sehingga seharusnya itulah yang diusung bukanlah isu SARA.

Pak Zul pun memaparkan demokrasi pasca reformasi yang terjadi di negeri kita. Menurutnya, 19 tahun pasca reformasi, Indonesia berhasil menciptakan demokrasi sehingga rakyat bisa bebas mengutarakan pendapatnya, acara kumpul antara netizen dan MPR pun bisa terjadi pada era demokrasi ini. Berbeda jauh keadaannya dengan sebelum reformasi. Hal tersebut merupakan salah satu keberhasilan reformasi yang patut disyukuri. Berbeda jauh dengan zaman sebelum reformasi yang bersifat sentralisasi dan otoriter. Demokrasi yang terjadi di Indonesia sudah berlangsung hampir 20 tahun dan banyak keberhasilan yang dicapai namun juga masih banyak peer yang harus diselesaikan. Berbeda dengan demokrasi yang terjadi di TimTeng yang saat ini masih menyisakan kemelut berkepanjangan.

Beberapa pekerjaan rumah yang mesti diselesaikan pasca reformasi yaitu penegakan hukum yang masih tebang pilih. Tentu saja ini peer besar karena penegakan hukum masih belum adil dan belum menyentuh seluruh lapisan rakyat. Masalah berikutnya adalah pengangguran yang masih banyak dan tenaga kerja yang belum terserap. Sementara pemerintah menerima bantuan proyek investasi dengan syarat pengerjaan yang dilakukan oleh tenaga kerja asing. Tentu hal ini membuat resah dan menjadi peer yang harus diselesaikan. Persoalan korupsi masih menjadi persoalan besar dan membutuhkan dukungan dari segala pihak bukan hanya kerja KPK. Sehingga masalah korupsi bisa diselesaikan dan tidak merugikan negara dan rakyat. Kesenjangan sumber daya alam masih menjadi persoalan besar yang pelik. Saat ini kepemilikan 70% aset dimiliki oleh 1% orang di Indonesia. Tentu saja hal ini bisa menimbulkan kesenjangan yang sangat besar.

Peran Blogger dan Netizen

Pak Zul menyebutkan bahwa masa ini adalah masa yang krusial karena merah putih sedang terkoyak. Masalah persatuan dan kesatuan negara menjadi persoalan besar yang bisa merugikan bangsa dan negara. Jika merah putih terus terkoyak maka akan memberikan peluang masuknya idealisme-idealisme lain yang bisa memecah persatuan dan kesatuan bangsa. Oleh karenanya, Pak Zul mengajak blogger dan netizen sebagai salah satu corong penting di masyarakat untuk bisa menjahit kembali merah putih yang terkoyak dan menciptakan kesadaran baru bagi rakyat Indonesia. Apalagi peran blogger dan netizen sangat penting di era digital ini dengan menyajikan konten-konten positif dan mencerahkan bangsa. Sebagai blogger netizen kita bisa berperan aktif dalam persoalan tersebut dan menjadi golongan terdepan dalam mencintai budaya,mengerti negeri kita, dan memiliki ilmu yang bermanfaat dan bisa dibagikan kepada masyarakat.

 

rani yulianty

Dulu sempat menulis buku anak dan sudah menerbitkan sekitar 100an buku anak. Sekarang masih menulis satu dua buku anak dalam setahun. Lagi asyik ngeblog dan menikmati kegiatan ngeblognya, mau diundang event hayu, dikasih job review oke, nulis review tanpa embel-embel pesanan dari brand juga suka, kok karena merasa puas dengan produk yang dipakai. Suka jalan, suka jajan, suka anak-anak. Blog tentang anaknya ada di www.ceritaanakbunda.com

You may also like...

24 Responses

  1. Rina Darma says:

    salam. iya, santai banget ya Pak Zul Hasan. jd tidak terkesan angkuh seperti rata2 pejabat. suka sama pribadi beliau yang ramah 🙂

  2. Waah, lengkap tulisannya. Sukaa Kalo pas zaman sri sekolah adanya PPKN ja, klo PMP itu lebih gmn ya teh belajar tentang apa, jd penasaran

  3. Seru ya teh acaranya jadi bisa mengeluarkan unek unek

  4. Uwien Budi says:

    Yup, sebarkan konten positif.

  5. Semoga aja dgn banyak membagikan hal2 positif bisa jadi salah satu cara buat menjahit kembali merah putih. 🙂

  6. Nchie Hanie says:

    Hayuu atuh kta mah pekerja onlen, menyebarkan konten2 positif ting2 aja yaa , moga bisa membantu dikit menjahit kembali bendera yang terkoyak

  7. waaahhhh…ada saya disana.

    Semoga acara seperti ini berkelanjutan ya? Suara kita didengar dan diperhatikan

  8. Selalu ingin ikut acara MPR ini karena banyak ilmunya. Tapi selalu bentrok dengan waktu kerja

  9. Reportasenya komplit,Teh. Salam kenal

  10. PMP! Eung…..pasti itu anak zaman old ya, Teh? 😀
    Tapi emang iya juga sih, perlu dipelajari sama ana-anak zaman now biar nggak kebablasan.

  11. Ida Tahmidah says:

    Hihi.. jadi inget PMP.. sekarang anak2 gak ada yang dapat P4 ya…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *