Melintasi Waktu Menuju Masa Depan

Melintasi Waktu Menuju Masa Depan

Drama Sisyphus: The Myth yang dimainkan oleh Park Shin Hye dan Cho Seung Woo memang sudah berakhir, tapi endingnya menyisakan banyak pertanyaan di benak penonton. Terutama adegan terakhir, Tae Sul dan Seo Hea ada di pesawat, padahal sebelumnya Han Tae Sul menembakkan peluru ke kepalanya. Banyak teori dan prediksi terkait drama ini. Kalau saya sih emang pasa dasarnya nggak mau mumet mikirin drama, bagi saya drama itu hiburan bukan ngajak sakit kepala. So, saya sih terima-terima ending apa pun yang disodorkan writer-nim. Satu hal yang pasti, berkat drama ini saya jadi berandai-andai apa yanh akan terjadi 5 tahun atau 10 tahun ke depan. Selama ini, saya tidak memikirkan masa depan dan tidak membuat rencana untuk masa depan.

Baca Juga: Sumber Inspirasi Saat Jenuh

Di sebuah webinar tentang “love & relationship” sebagai peserta saya diajak untuk membayangkan masa depan, apa yang saya impikan 5 tahun ke depan terkait hubungan dengan pasangan, anak, orangtua, dan keluarga besar. Menurut sang coach, masa depan bisa kita rangkai dari sekarang. Masa lalu memang tidak bisa diubah tapi kita masih memiliki kesempatan untuk memiliki masa depan yang gemilang. So, jangan terjebak dengan masa lalu yang menyakitkan, toh semua sudah terjadi dan tidak bisa diulang lagi, tapi buatlah rencana untuk masa depan agar kehidupan bahagia. Sang coach pun mengajak peserta webinar untuk bermain melintasi waktu menuju masa depan dengan membayangkan apa yang ingin kita alami di masa depan, 5 tahun ke depan, 10 tahun ke depan.

Baca Juga: Bepergian di Masa Pandemi, Jangan Lupa Bawa Barang Ini

Tahun ini, saya akan menginjak usia 40 tahun. Bukan usia muda yang bersemangat meraih cita-cita tapi usia dewasa akhir. Rasanya, di usia dewasa akhir ini apa sih yang kamu inginkan, Ran? Oh, pastinya banyak karena ternyata banyak hal yang sudah saya lewatkan karena kekeliruan cara pandang saya selama ini mengenai kehidupan. Jadi, usia 40 tahun ini saya anggap sebagai titik balik saya untuk mulai merencanakan kehidupan di masa datang. Jika Allah mengizinkan saya untuk bisa menghirup udara dalam 5 tahun, 10 tahun, bahkan 30 tahun ke depan. Berarti Allah masih memberikan kesempatan kepada saya untuk bisa berbuat lebih baik lagi untuk kehidupan ini.

Lima tahun ke depan berarti usia saya 45 tahun, anak-anak pun pastinya mulai beranjak remaja. Tidak ada salahnya saya membuat rencana untuk 5 tahun ke depan.

  1. Hubungan dengan Sang Pencipta
    Perjalanan menuju usia 40 tahun tidak mudah. Banyak air mata, rasa marah, rasa kecewa, rasa akit hati, rasa benci, rasa dendam yang membuat tidak bahagia. Satu hal yang pasti, saya tidak mau terjebak oleh hal-hal negatif tersebut. Saya harus bisa keluar dari situasi yang membuat saya tenggelam dalam kesedihan sehingga tidak mampu melihat cahaya. Saya tahu, hubungan saya dengan Tuhan yah gitu aja, saya ibadah, saya shalat, saya mengaji, tapi saya tidak pernah berusaha mengenal Tuhan lebih dekat. Yang saya lakukan hanyalah kewajiban tanpa dilandasi oleh keinginan untuk lebih dekat dan lebih dekat dengan Tuhan. Lalu, bagaimana caranya agar bisa lebih kenal dengan Sang Pencipta? Apa nggak cukup dengan rajin ibadah? Entahlah, saya juga tidak tahu, setiap orang pastinya akan mengalami proses pencarian yang berbeda. Saya mencoba mengenal Tuhan dengan cara mengenal ciptaannya. Apa itu ciptaannya? Yang pasti paling dekat yaitu diri sendiri. Oleh karenanya, saya berusaha mengenal diri sendiri dengan lebih melihat lebih ke dalam diri saya. Proses pengenalan diri sendiri bukanlah hal instan, saya sudah mulai sejak beberapa tahun lalu. Dulu saya ikut tes sidik jari dengan tujuan agar lebih kenal dengan diri sendiri.

Apa setelah mengikuti tes sidik jari langsung kenal dengan diri sendiri? Tentu tidak, Marimar. Setiap orang punya proses penerimaan yang berbeda, ada yang cepat dan ada yang lambat. Saya termasuk yang lambat karena sampai sekarang pun saya masih berproses. Namun yang pasti, menurut saya apa pun yang saya alami di masa lalu, baik itu sesuatu yang menyenangkan ataupun menyakitkan merupakan proses yang harus saya alami untuk lebih mengenal diri saya. Jika saya tidak mengalami hal pahit, mungkin saya tidak tergerak untuk rutin latihan agar bisa mengenal diri sendiri. Saya mungkin tidak akan berupaya kerasa untuk bisa mengendalikan emosi. Semua proses tersebut merupakan jalan bagi saya untuk mengenal diri sendiri dan kemudian untuk bisa mengenal Tuhan lebih dekat. Harapannya, latihan-latihan yang saya lakukan saat ini akan berefek pada kehidupan spiritual saya di 5 tahun ke depan. Rencananya 5 tahun ke depan, saya menjadi pribadi yang lebih baik, lebih tenang, lebih damai, dan pastinya selalu berbahagia. All of life comes to me with total ease joy and glory.

  1. Hubungan dengan Pasangan
    Lima tahun ke depan, jika saya masih berjodoh dengannya, berarti usia pernikahan kami mencapai usia 20 tahun. Waktu yang cukup panjang, bahkan menghabiskan separuh hidupku menjadi pasangannya. Yah, saya sudah melewati 15 tahun pernikahan dengan segala luka dan likunya. Rasa sakit hati, rasa kecewa, rasa marah, rasa dendam, rasa bahagia pernah saya lalui dalam proses panjang ini. Saya tidak tahu apa yang membuat kami bertahan dalam rumah tangga ini. Hanya secuil tekad untuk bisa memperbaiki diri dan hubungan dengan pasangan. Kami pernah sama-sama saling melukai, kami pernah sama-sama saling menyakiti, kami pernah sama-sama berbuat kesalahan, kami pernah sama-sama saling peduli, kami juga pernah sama-sama saling benci. Peristiwa pahit dan menyakitkan semoga menjadi hal yang bisa membuat kami sama-sama dewasa dalam membina hubungan.

Baca Juga: 5 Tempat Libyran Favorit

Saya sendiri tidak terlalu muluk dengan rencana dengan pasangan. Saya hanya mencoba memperbaiki diri, memperbaiki cara pandang terhadap pasangan, memperbaiki sikap dan cara berkomunikasi. Jika dalam 5 tahun ke depan kami masih berjodoh, saya ingin punya lebih banyak waktu dengan pasangan, menghabiskan waktu bersama, dan lebih saling mencintai.

  1. Hubungan dengan Orangtua
    Tinggal bersama orangtua belum tentu bisa banyak berbakti dan berbuat baik pada orangtua. Malah, tinggal dengan orangtua bisa menimbulkan lebih banyak konflik, apalagi jika pola asuh terhadap anak yang berbeda. Sebagai anak, saya sadar masih banyak kekurangan dalam hal memuliakan orangtua. Sebelumnya, saya merasa sudah berusaha keras untuk menyenangkan orangtua, tapi ternyata belum cukup. Hati yang tidak lapang membuat banyak hal terasa sempit, begitu pula dengan hubungan yang kurang harmonis dengan orangtua.

Rencana 5 tahun ke depan, saat usia saya bertambah, rambut mamah pun sudah semakin putih pastinya kekuatannya pun semakin lemah. Saya harus lebih banyak memerhatikan kebahagiaan mamah, keinginannya, terutama komunikasi dengannya. Harapannya 5 tahun ke depan, mamah masih tetap sehat dan lebih bahagia dalam menjalani hari-hari tuanya.

  1. Hubungan dengan Anak-Anak
    ”Bunda jahaaat,”hati ini sakit saat mendengar umpatan kesal dari anak-anak karena keinginannya tidak terpenuhi. Reaksi saya? Tentunya langsung marah. Tapi itu cerita sebelum saya rutin latihan ipov dan TTTE. Sekarang, saya sudah tidak terlalu reaktif terhadap rengekan dan rewelan bocah-bocah. Saya masih ngomel, masih marah, tapi intensitasnya tidak seperti dulu. Entah kenapa, setelah rutin latihan, saya merasa lebih lapang dan tidak mudah terpancing emosi. Saya pun lebih bisa menerima anak-anak apa adanya. Saya yakin, Allah menitipkan dua bocah ini pada saya karena tahu kekuatan saya dalam membesarkan, mendidik, dan membersamai mereka.
    Aaar
    Lima tahun ke depan, anak-anak sudah beranjak remaja. Si sulung berusia 13 tahun, adiknya berusia 9 tahun. Pastinya tantangan yang saya hadapi akan berubah, seiring perkembangan usia mereka.

Rencana 5 tahun ke depan, berusaha memberikan bekal ilmu yang bisa bermanfaat untuk masa depan mereka. Mengajarkan mereka keterampilan-keterampilan yang membuat mereka bisa percaya diri dalam menghadapi tantangan di masa depan. Tugas saya membekali mereka dengan ilmu-ilmu yang bermanfaat untuk kehidupan mereka di masa mendatang.

  1. Hubungan dengan Menciptakan Uang
    Banyak orang tidak mau membicarakan uang, merasa tabu saat membicarakan uang, khawatir dikatakan orang yang serakah jika membicarakan uang. Padahal, dalam hati sangat membutuhkan uang. Saya ingin punya hubungan yang harmonis dengan uang. Uang merupakan energi yang mengalir terus, oleh karenanya saya berusaha untuk melatih energi, mengenal medan energi, dan bisa menciptakan uang dengan energi positif.

Saat ini rasanya masih jauh, saya juga tidak tahu bagaimana caranya menciptakan uang yang banyak, saya juga belum tahu bagaimana caranya bisa berhubungan mesra dengan uang. Saat ini yang saya lakukan barulah mengubah cara pandang saya tentang uang. Sepertinya memang sesuatu yang abstrak dan tidak nyata, tapi itulah yang terjadi, saya berusaha memperbaiki dasarnya dulu.

Lima tahu ke depan, saya ingin memiliki hubungan yang harmonis dengan uang, bisa menciptakan uang untuk manfaat yang lebih besar, tidak hanya untuk saya tapi juga untuk lingkungan.

Lima rencana saya untuk 5 tahun ke depan dengan harapannya di masa depan, saya hidup lebih bahagia, berkelimpahan, dan mendapat kemudahan dalam segala urusan. Aamiin.

rani yulianty

Dulu sempat menulis buku anak dan sudah menerbitkan sekitar 100an buku anak. Sekarang masih menulis satu dua buku anak dalam setahun. Lagi asyik ngeblog dan menikmati kegiatan ngeblognya, mau diundang event hayu, dikasih job review oke, nulis review tanpa embel-embel pesanan dari brand juga suka, kok karena merasa puas dengan produk yang dipakai. Suka jalan, suka jajan, suka anak-anak. Blog tentang anaknya ada di www.ceritaanakbunda.com

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *