Menanamkan Sikap Antikorupsi Sejak Dini, Apakah Bisa?

IMG_20150620_134514

Mendengar kata “Korupsi” rasanya telinga ini udah gatal. Hampir setiap hari, di televise ditayangkan kasus-kasus korupsi yang terjadi di negeri ini. Ada perasaan marah, kesal, muak pada para pelaku korupsi. Namun, korupsi tidak pernah habis. Para pelaku korupsi tidak pernah jera bahkan lebih merajalela. Apa yang terjadi dengan negeri ini? Lama-lama kita merasa biasa dengan berita korupsi dan mengabaikannya, menganggap hal yang lumrah. Apa yang terjadi dengan masyarakat negeri ini? Saat korupsi dianggap hal yang biasa. Saking sudah bosannya dengan pemberitaan tentang korupsi dan para pelaku korupsi yang ternyata selama ini dikenal sebagai orang yang baik dan berdedikasi tinggi.
Padahal, korupsi itu membahayakan? Korupsi merupakan kejahatan mencuri yang dilakukan oleh sekelompok orang. Korupsi itu mengakibatkan rakyat sengsara.

Pernahkah kita melihat berita mengenai anak-anak yang pergi ke sekolah dengan mengadu nyawa melewati jembatan gantung yang membahayakan? Apakah kita pernah ngeh bahwa harusnya anak-anak itu bisa melewati akses jalan yang aman untuk bisa pergi ke sekolah? Namun, karena dana pembangunan dikorupsi, anak-anak itu harus rela pergi ke sekolah dengan risiko tinggi. Itu hanyalah segelintir cerita penderitaan rakyat akibat korupsi. Masih banyak kasus lain yang terjadi akibat korupsi.
Lalu, ketika antikorupsi mulai diperkenalkan kepada anak-anak apakah bisa? Jawabannya ada di Seminar Menanamkan Sikap Antikorupsi Pada Anak yang diadakan Hari Sabtu, tanggal 20 Juni 2015 di BIP, Bandung. Saya sangat antusias mengikuti rangkaian acara Parengting Ramadhan yang bertema antikorupsi ini karena memang saya sadar bahwa sikap antikorupsi memang sebaiknya ditanamkan sejak dini kepada anak-anak. Sayangnya, kita para orang tua sering kurang ngeh dengan hal tersebut sehingga melewatkan tahap-tahap penting dalam perkembangan anak, salah satunya menanamkan sikap antikorupsi pada anak.

Mbak Sely Martini dari ICW menjelaskan tentang bahaya korupsi

Mbak Sely Martini dari ICW menjelaskan tentang bahaya korupsi

Seminar ini terdiri atas 2 sesi, sesi pertama diisi oleh Mbak Sely Martini dari ICW (Indonesia Corruption Watch) lembaga yang fokus pada masalah korupsi di tanah air. Menurut mbak Sely, ICW sudah melakukan riset mengenai korupsi secara empirik dan menggunakan sains sehingga terbukti kebenarannya. Menurutnya, korupsi merupakan akar dari segala kejahatan yang mengakibatkan kemiskinan, kerusakan lingkungan, dan ketidakadilan. Korban korupsi bisa siapa saja, bisa orang tua, dewasa, anak-anak, orang kaya atau miskin.
Ada 7 jenis korupsi:
1. Merugikan keuangan negara
2. Terjadi suap
3. Gratifikasi
4. Penggelapan dalam jabatan
5. Pemerasan
6. Perbuatan curang
7. Konflik kepentingan
Kenapa korupsi harus diberantas?
– Adanya kewajiban tanggung jawab kita sebagai anggota masyarakat jika melihat sesuatu yang tidak benar.
– Kontrol sosial
– Meningkatkan kualitas demokrasi
– Meningkatkan kualitas pemerintahan
– Masa depan anak bangsa terancam
Pemberantasan korupsi tidak sekadar memenjarakan para koruptor tapi juga bagaimana membangun masyarakat yang memiliki integritas tinggi. Strategi pencegahannya melalui keluarga karena keluarga merupakan inti dari pendidikan. Bagaimana menanamkan sikap antikorupsi kepada anak yaitu dengan menanamkan nilai-niali integritas seperti jujur, peduli, disiplin, mandiri, tanggung jawab, kerja keras, berani, adil, dan sederhana. Dengan menanamkan sikap-sikap integritas kepada anak sejak kecil akan memperkecil tumbuhnya sikap menyukai uang tanpa harus kerja keras dan cara-cara menyimpang.
Sesi 2 acara seminar ini diisi oleh Mbak Fani dari 123 yang membahas materi Korupsi dan Pengasuhan Anak. Pada sesi ini dibahas secara detail bagaimana proses pengasuhan yang tepat dapat menanamkan sikap antikorupsi pada anak sejak dini. Menurut mbak Fani, dalam masa pertumbuhannya ada masa kemampuan sosial-emosional yang sering terlewat oleh orang tua. Orang tua sering menganggap wajar anak yang cenderung pendiam dan introvert dan mengabaikannya, menganggap biasa dan bilang kalau udah besar khan tidak akan begitu. Saya setuju dengan pernyataan tersebut. Becermin pada pengalaman diri saya, saat kecil saya termasuk anak yang cenderung pemalu dan pendiam. Memang, perlahan sesuai perkembangan mental, perlahan saya berubah, saya tidak lagi pendiam namun kecenderungan untuk menjadi penyendiri tetap ada dan seringnya merasa ‘sendirian’ tanpa bisa mengungkapkan apa yang ada di hati dan pikiran secara tepat dan hasilnya lebih ke emosi. Hehehe..jadi curcol. Lanjut lagi materinya, ya.
Pada masa kanak-kanak ada tahap egosentris yaitu selalu ingin menjadi pusat perhatian, tidak empati, merasa benar sendiri. Jika sikap-sikap egosentris ini masih ada sampai dewasa berarti ada yang kurang dalam perkembangan jiwa orang tersebut. Kalau istilah mba Fani, tidak bisa move on. Hehehe…
Moral merupakan pertimbangan akan baik dan buruk dalam perilaku seseorang. Pada anak-anak hal ini sudah bisa dilihat. Seorang anak yang sudah memiliki pemahaman moral yang baik akan terlihat dari perilakunya sehari-hari, misalnya si anak sudah bisa bertanggung jawab atas perilakunya. Contoh merapikan mainan sendiri, membuang sampah pada tempatnya, dll.
Ada 10 karakter yang mendukung perkembangan moral amak menurut Berkowitz & Gaych (2000)
1. Pengendalian diri: pentingnya membuat anak bisa mengendalikan diri dilakukan melalui rutinitas yang dilakukan secara konsisten.
2. Empati: banyak berdiskusi dengan situasi di luar sana.
3. Interaksi sosial
4. Kepatuhan
5. Keberhargaan diri
6. Kesadaran akan perilaku baik
7. Penalaran moral
8. Keinginan untuk menolong
9. Kejujuran
10. Kemampuan sosial
Ada 10 metode pengasuhan anak yang bisa diterapkan di rumah yaitu:
1. Pengarahan untuk perilaku baik
2. Pengasuhan yang hangat
3. Tuntutan yang jelas
4. Pemberian contoh
5. Proses demokratis
6. Memfasilitasi pengertian akan situasi
7. Mengajarkan nilai-nilai kemanusiaan
8. Membangun kepedulian
9. Membantu anak mengendalikan emosi
10. Menghargai anak

rani yulianty

Dulu sempat menulis buku anak dan sudah menerbitkan sekitar 100an buku anak. Sekarang masih menulis satu dua buku anak dalam setahun. Lagi asyik ngeblog dan menikmati kegiatan ngeblognya, mau diundang event hayu, dikasih job review oke, nulis review tanpa embel-embel pesanan dari brand juga suka, kok karena merasa puas dengan produk yang dipakai. Suka jalan, suka jajan, suka anak-anak. Blog tentang anaknya ada di www.ceritaanakbunda.com

You may also like...

14 Responses

  1. arif rahman says:

    Sepertinya harus di lihat batasan umurnya untuk urusan yang satu na, karena anak masih perlu kebebasan dalam usia seperti itu.

  2. murtiyarini says:

    Saya memulainya dg mengajarkan kejujuran dan kehalalan.

  3. momtraveler says:

    kejujuran .. hal yg penting banget ditanamkan ke anak2 sejak dini

  4. Kita sebagai orang tua memang harus sabar mengenalkan nilai baik dan buruk ya mba

  5. Zia says:

    Ulasannya inshaaAllah bermanfaat mak. Memang kita perlu terapkan sedini mungkin. Mengajarkan ‘Antikorupsi’ pada anak dimulai dengan kejujuran seperti jujur mengelola waktu dan juga jujur mengelola uang. Mudah2an dengan pembiasaan dan seperti apa yang kita contohkan nilai2 yang baik langsung bisa tertanam pada anak yang sejalan dengan usianya nanti saat beranjak dewasa, mereka sudah secara otomatis akan disiplin dan tidak korupsi (baik korupsi waktu atau dalam nominal).

    Salam kenal dan salam hangat ya mak,
    Zia.

  6. Nathalia DP says:

    saya blum sempet nulis reportasenya nih hehe…
    ikut acara ini jd besar lg harapan saya bhw suatu saat indonesia bisa bersih dr korupsi…

  7. uswah says:

    entah bagaimana para koruptor dulu pada masa kecilnya, apakah dia kerap menggelapkan uang spp orang tuanya? mengarang cerita agar ia mendapat uang? yang pasti kejujuran itu penting ditanamkan sejak kecil, dan sebagai orang tua kita hendaknya menghargai kejujuran seorang anak, tidak mudah marah terhadap kejujuran anak.. seperti contohnya anak memecahkan vas bunga, anak sudah jujur dan ternyata orang tuanya memarahi habis2an..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *