Menangis untuk Ayah (Riview Buku)

IMG_20150713_123338

Sebelumnya, saya ingin mengucapkan

Taqobalallahu Minna Wa Minkum

untuk teman-teman semua di postingan pertama saya setelah lebaran

Suatu sore, sepulang dari kantor saya melihat sebuah pemandangan yang membuat hati saya tergetar. Seorang bapak-bapak penjual sapu berjalan di pinggir jalan sambil menggendong anak perempuannya yang masih kecil. Tanpa disadari, air mata bercucuran. Huh… cengeng banget, ya. Lihat kayak gitu aja nangis. Tapi, memang saya sering nangis oleh hal-hal kecil yang saya lihat di sekitar, apalagi jika sudah melibatkan hubungan antara anak dan orang tuanya, terutama hubungan ayah dan anak.

Hubungan ibu dan anak sudah banyak diceritakan di buku-buku, tapi kalau hubungan ayah dan anak masih jarang, deh. Hubungan manis antara ayah dan anak membuat saya ingat Fathan dan ayahnya, yang kadang bikin saya cemburu. Habisnya, Fathan kalau bobo maunya dipeluk ayah, kalau ke mana-mana mau ikut ayah, hikss…

Makanya, saat buku

Makanya, saat buku Ayah Andrea Hirata keluar, saya ngebet pengen baca. Alhasil, Ayah dari Andrea Hirata sukses membuat saya nangis sesenggukkan. Bukan karena kehebatan Andrea Hirata dalam menjalin untaian kata –yang memang itu spesialisasiny–, juga bukan karena kepiawaan Andrea Hirata dalam menggambarkan hubungan ayah dan anak (Andrea Hirata jago deskripsi yang ciamik), tapi pada dasarnya saya yang melankolis dan mudah menangis oleh hal-hal yang manis. Eaaa….

Membaca Ayah Andrea Hirata membawa saya untuk menelusuri untaian kata-kata indah khas melayu yang sangat detil dalam menggambarkan latar belakang tempat. Seperti tetraloginya Laskar Pelangi , Ayah juga mampu mengajak saya tersenyum saat membayangkan karakter-karakter tokoh yang dihadirkan Andrea Hirata. Karakter-karakter unik yang ada dalam novelnya itu selalu membuat kesan yang berbeda dan sulit dilupakan. Adalah Sabari, tokoh utama dalam novel Ayah ini, seorang pemuda lugu yang memiliki sifat sesuai dengan namanya yaitu sabar. Pada bab pertama novel ini digambarkan, tokoh Sabari yang sedang mengenang kerinduan kepada kekasihnya Lena yang sudah meninggalkannya.

Seperti halnya novel sebelumnya, Andrea Hirata suka membuat bagian-bagian yang seakan-akan tidak nyambung. Pada bab 2, tidak dibahas lagi Sabari tapi dibahas kehidupan keluarga Amirza yang beranak Amiru, Amirta, Amirna, dan istrinya yang sakit. Amirza seorang ayah sederhana yang sangat suka bereksperimen dengan radionya yang menjadi satu-satunya benda berharga di rumahnya. Di bab lain juga diceritakan ayah lain yang memiliki keras yaitu Markoni. Saya baru menemukan sebagian benang merah saat tahu bahwa Markoni adalah ayah Marlena –perempuan yang dicintai oleh Sabari–. Saya belum bisa menemukan hubungan antara Sabari, Markoni, dan keluarga Amiru. Padahal di halaman awal buku ini tertulis.

           Seperti

dikisahkan Amiru

kepadaku

Jadi, saya terus menelusuri kisah yang disajikan sang pendongeng kita, Andrea Hirata yang asyik membuat saya terhanyut dalam kisah asmara Sabari dan Marlena. Bukan kisah asmara tepatnya tapi kisah cinta bertepuk sebelah tangan Sabari pada Marlena yang dimulai saat Sabari mengikuti ujian masuk SMA. Saat itulah, dia jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap Lena yang sudah berani mengambil kertas ujiannya untuk disontek. Sayangnya, Marlena tidak pernah memedulikan Sabari. Namun, cinta Sabari tidak pernah luntur. Bagi Sabari, Marlena adalah satu-satunya perempuan baginya. Cintanya terhadap Marlena membuat pusing kedua sahabatnya yaitu Ukun dan Tamat. Namun, mereka berdua tetap mendukung Sabari. Walaupun berwajah pas-pasan, Sabari mewarisi bakat puitis dari ayahnya yang seorang guru bahasa Indonesia. Walaupun dia tidak pintar, tapi Sabri tetap berprestasi di sekolahnya, demi menarik perhatian Marlena. Berbeda dengan Sabari yang berprestasi, Marlena malah dikenal sebagai siswi cantik yang suka berganti pacar. Dia pun seorang yang ingin bebas dan selalu menentang ayahnya. Marlena masuk SMA pun karena takut dengan ancaman ayahnya yang akan menjodohkannya dengan seorang pemuda jika Marlena tidak bisa melanjutkan sekolah ke SMA. Maanya, Marlena menyontek saat ujian masuk agar bisa lulus ujian masuk SMA.

Selama masa sekolah itulah, Sabari tidak pernah surut menunjukkan perjuangannya untuk meraih cinta Marlena. Tanpa dia sadari, perjuangannya yang tanpa kenal lelah itu telah menginspirasi seorang Izmi yang tadinya siswi yang hampir tidak naik kelas menjadi siswi yang kembali memiliki cita-cita. Izmi yang berwajah pas-pasan dan memiliki nilai buruk berubah menjadi Izmi yang rajin belajar disela kesibukannya mencari uang untuk menopang kehidupan keluarga. Perubahan yang terjadi pada dirinya karena Sabari. Tanpa Sabari ketahui sama sekali.

Selepas SMA, cinta Sabari tidak luntur. Dia menyibukkan diri bekerja sebagai buruh pabrik es untuk melupakan Marlena. Tapi usahanya sia-sia, dia tidak pernah bisa melupakan Marlena. Akhirnya Sabari memutuskan untuk bekerja di pabrik Batako milik Markoni. Awalnya Markoni memandang sebelah mata pada Sabari, namun berkat ketekunannya, Sabari berhasil menjadi karyawan teladan dan mendapat mendali dari Markoni. Namun, Marlena kembali tidak bergeming. Penantian Sabari pun tiba, saat Marlena hamil di luar nikah dan Sabari mau bertanggung jawab menikahi Marlena.

Saat Marlena melahirkan, Sabari pun menjadi ayah dari anak Marlena. Jika keayahan Sabari muncul, dia pun menjadi ayah terbaik untuk anaknya yang diberi panggilan Zorro. Sejak menjadi istri Sabari, Marlena jarang pulang, dia sibuk pacaran dengan orang lain. Sementara Sabari menumpahkan seluruh kasih sayangnya pada Zorro (pada bagian ini saya sudah menangis karena membayangkan hubungan antara Sabari dan Zorro yang begitu manis). Sayangnya, tiba-tiba Marlena mengajukan gugat cerai pada Sabari dan mengambil Zorro. (Duuuh, nggak bisa menahan air mata yang deras mengalir).

Secara apik, Andrea Hirata menggambarkan perceraian Sabari dengan perceraian dua tokoh laki-laki lainnya. Tokoh-tokoh baru yang belum diceritakan sebelumnya. Sambil saya bertanya-tanya dalam benak, ke manakan tokoh keluarga Amirza ‘pergi’ karena sama sekali tidak lagi dibahas oleh penulis. Andrea malah asyik menceritakan tokoh baru yaitu Manikam yang seorang pegawai pemerintahan yang berkecukupan dan Jon yang seorang pemusik yang memiliki nasib sama dengan Sabari yaitu digugat cerai oleh istri mereka masing-masing. Saya terus menelurusi kisah ini dan akhirnya menemukan benang merah bahwa setelah bercerai dengan Sabari, Marlena menikah dengan pemilik dealer vespa. Lalu, Andrea asyik menceritakan kisah Manikam yang trauma dengan perceraiannya dan menolak dikenalkan dengan perempuan mana pun. Lalu, dia diperlihatkan foto seorang perempuan yang menarik perhatiannya. Manikam dan perempuan itu saling berkirim surat beberapa lama dan akhirnya setuju untuk bertemu. Dan, perempuan itu adalah Marlena yang ternyata sudah bercerai dengan pemilik dealer vespa. Benang merah kembali saya temukan, saat Marlena bercerai dengan Manikam dan menikah dengan Jon. Sampai di sini saya mulai mengumpulkan bagian-bagian jalinan kisah yang saling bertautan. Lalu, bagaimana nasib Sabari selepas dipisahkan dari Zorro?

Hidup Sabari hancur. Usaha sembakonya bangkrut, kambing-kambingnya dijual dengan harga murah, rumah ditinggalkan pergi. Sabari hidup sebagai gelandangan. Keadaan itu membuat kedua sahabatnya prihatin. Akhirnya, Ukun dan Tamat berencana mencari Marlena dan Zorro agar Sabari tidak terus-terusan bersikap seperti orang gila. Ukun dan Tamat mencari Marlena dan Zorro dengan cara menelusuri surat-surat yang dikirim Marlena kepada Zuraida, sahabatnya. Dimulailah petualangan kedua sahabat itu keluar dari Belitong dan mengantarkan mereka menemui mantan-mantan suami Marlena yaitu Manikam dan Jon. Petualangan mereka pun akhirnya sampai ke suatu daerah yang sangat mengidolakan Lady Diana. Criing, saya seakan menemukan cahaya di kegelapan, saat kata Lady Diana muncul. Daerah yang mengidolakan Lady Diana adalah daerah tempat tinggal Amiru dan ayahnya Amirza, apakah saya akan kembali menemukan kisah Amiru.

Ternyata, Andrea malah membawa saya kembali kepada Sabari yang mendapat surat dari Ukun dan Tamat yang mengabarkan bahwa mereka akan pulang dengan membawa Marlena dan Zorro ke Belitong. Surat itu sudah membuat Sabari ‘sadar’ dan menjadi dirinya yang baru. Setelah 8 tahun menjadi ‘gila’ karena berpisah dengan Zorro.

Andrea kembali mebawa saya loncat ke kisah lain benua lain yaitu Australia. Kembali membuat saya berkerut ada apakah di benua ini? Ternyata, seorang nelayan bernama Neil menemukan seekor penyu yang ditempeli pelat alumunium berisi pesan unik:

Belitong, 2 Desember, 1990.

This from Sabari, please help for information where my son Zorro and the woman Marlena binti Markoni. Loss, no clear where Marlena my X wife, Zorro no X son, he my son always, to be continue, forever.

Happy news for give to Sabari, Belantik Village, close SD Inpres (the president instruction school basic), east Belitong Island, Indonesia. SOS, mei dei, help, urgent emergency, danger, your good will give back to you again by God, sorry before and after, thank you no limit. Sincerely yours, very very sad, Indonesia lonely man, Sabari.

Isi pesan itu berhasil membuat Neil percaya bahwa di belahan bumi lain ada seorang pria kesepian yang mencari anaknya. Neil pun berusaha membantu dengan menanyakan pada orang-orang mengenai keberadaan Marlena dan Zorro.

Tanggal kedatangan kapal tiba. Sabari menunggu dengan harap-harap cemas. Setelah penantian dan usahanya untuk menghadiahkan piala lomba lari marathon kepada Zorro. Namun, kapal itu belum juga muncul. Setelah hampir seharian menanti, akhirnya kapal yang ditunggu tiba. Saat itulah, Sabari langsung mengenali bocah laki-laki yang mengenakan kemejanya. Anak laki-laki itu pun langsung memanggilnya Aya aya … hikss…saya dibuat terharu sekaligus terkejut saat disebutkan bahwa anak laki-laki itu bernama Amiru. Baru, deh, saya bisa menghubungkan puzzle berikutnya. Ternyata, Marlena menikah dengan Amirza dan hidup bersama Amirza di Kampung Nira.

Ya, Amiru adalah Zorro, putra kesayangan Sabari. Amiru tidak hanya memiliki satu ayah tapi memiliki tiga ayah lainnya yaitu Manikam, Jon, dan Amirza. Namun, ayah yang sudah mengajarkan segalanya adalah Sabari yang sudah mengajarinya berpuisi sejak masih bayi sehingga Amiru tanpa sadar bisa mengisahkan kisah keluarga langit. Amiru yang pandai berpuisi, Amiru yang cerdas berbahasa. Lalu, Sabari dan Amiru mendapat surat dari Australia yang menuliskan kisah seorang ayah yang mencari anaknya dengan cara mengirim pesan melalui seekor penyu. Setelah tujuh tahun penyu itu mengelana Samudra, akhirnya seseorang di Australia menemukannya. Amiru pun membalas surat tersebut dan mengatakan bahwa dirinya sudah bertemu dengan ayahnya, Sabari. Akhir kisah yang manis, ayah dan anak akhirnya dipersatukan kembali. Membuat saya yang menangis terseguk bisa tersenyum bahagia dengan kisah Sabari dan Zorro.

Penokohan:Para tokoh khas Melayu yang memiliki karakter unik seperti tokoh Sabari yang pandai berpuisi, teguh pendirian, selalu berpikiran positif. Karakter para tokoh dijalin dengan apik oleh penulis sehingga saya sebagai pembaca bisa membayangkan karakter para tokoh tersebut seperti nyata adanya.

Plot:Plot cerita berupa campuran antara flashback kisah Sabari dan potongan puzzle yang berusaha dirangkai penulis secara terpisah sehingga pembaca harus menemukan kepingan-kepingan puzzle tesebut dan menyatukannya.

Latar belakang Tempat: Latar belakang suasana kota Belitong dengan keindahan pantainya dan fenomena biru yang hanya ada di Belitong. Kota-jota lain digambarkan tidak terlalu detail, penulis hanya menggambarkan ciri khas utama kota-kota lain yang diceritakan dalam novel.

Latar belakang waktu:Kisah panjang Sabari sejak tahun 80an sampai tahun 2000an.

Pesan:Cinta seorang ayah tidak kalah hebat dengan cinta seorang ibu. Bahkan, penantian seorang ayah bisa lebih kokoh terhadap anaknya.

Masukan editorial:Di halaman 23, disebutkan Amirza hanya lulusan SD. Lalu, di halaman 51, kembali disebutkan Amirza hanya tamat SMP. Sesuatu yang tampak kurang penting dan tertutupi keindahahan jalinan kalimat dari Andrea Hirata tapi tetap membuat saya sedikit bingung.

 

 

rani yulianty

Dulu sempat menulis buku anak dan sudah menerbitkan sekitar 100an buku anak. Sekarang masih menulis satu dua buku anak dalam setahun. Lagi asyik ngeblog dan menikmati kegiatan ngeblognya, mau diundang event hayu, dikasih job review oke, nulis review tanpa embel-embel pesanan dari brand juga suka, kok karena merasa puas dengan produk yang dipakai. Suka jalan, suka jajan, suka anak-anak. Blog tentang anaknya ada di www.ceritaanakbunda.com

You may also like...

10 Responses

  1. utie says:

    Ho..Ho.. Buku “Ayah” nya udah ditangan nih… cuma belom sempet baca 😀 Baiklah, abis baca review ini bukunya bakalan segera dibaca deh ^^

  2. Nathalia DP says:

    setelah laskar pelangi, saya kurang sreg dgn karya2 andrea hirata lainnya… tp penasaran pgn baca yg ini jg…

  3. Ahmad Andriana says:

    saya malah belum tuntas bacanya. Keselang sama Inferno-nya Om Dan Brown. Eh, Marlena itu pacarnya Sabari atau pacar Dilan sih? Marlena Adnan Husein ya?

  4. Ila Rizky says:

    Masukin wishlist ah, kayaknya bagus, mba.

  5. Segera berburu ke gramed daaah, udah lama ga baca2 :/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *