Novel Roman VS Chick Lit


 

Hayoo, siapa yang suka baca novel roman? Genre ini seringkali dipandang sebelah mata dan dianggap sebagai karya picisan. Namun, faktanya buku-buku jenis roman ini sangatlah laku di pasaran bahkan banyak berhasil menembus angka penjualan yang sangat tinggi. Ini membuktikan bahwa novel roman memiliki pembaca setia dan digandrungi oleh pembacanya.Novel roman yang diwakili oleh seri Harlequin dan Mills & Bonn memiliki pola dasar yang selalu ada di dalam setiap cerita. Pola dasar dari novel roman disebut hard romances oleh Ann Snittow (1986).

Pola dasar dari bentuk novel roman biasanya bercerita tentang karakter utama seorang perempuan muda yang masih sangat polos di dalam urusan percintaan. Biasanya karakter perempuan bertemu dengan seorang pria kaya, mapan, yang usianya lebih tua sekitar 15 tahun. Tentu saja karakter laki-laki pun berpengalaman dalam urusan bercinta. Karakter laki-laki biasanya memiliki karakter yang menyebalkan bahkan kasar sehingga pada awal awal pertemuannya, selalu terjadi pertengkaran dan kesalahpahaman di antara mereka. Namun, pada akhirnya, tokoh perempuan pelan-pelan dapat mengubah karakter buruk dari tokoh laki-laki. Bahkan, tujuan akhir dari hubungan mereka adalah kebahagiaan sampai akhir yaitu pernikahan.

The Romance Writers of America membuat definisi mengenai novel roman yaitu Romantic novels as looks where the love story as the main focus of the novel and which have an emotionally satisfying happy ending (2006). Fokus utama dari novel roman adalah cerita percintaan. Di dalamnya ada unsure emosi yang sangat kuat di antara para tokoh utama dan adanya pengorbanan cinta. Namun, akhir dari cerita adalah kebahagiaan yang ditandai dengan upacara pernikahan. Kebahagiaan bagi tokoh utama perempuan diidentikkan dengan penemuan pasangan yang dilanjutkan dengan pernikahan.

Berbeda dengan novel roman, Chick Lit memiliki pola yang telah bergeser dari pola dasar novel roman. Bahkan Rosalind Gill dan Elene Herdieckerhoff ,menyebutnya sebagai modifikasi dari novel roman yang memiliki pakem yang sudah berubah. Karakter utama dari Chick Lit sama dengan novel roman yaitu seorang perempuan. Namun, jika dibandingkan keduanya memiliki karakteristik yang berbeda. Jika perempuan di dalam novel roman digambarkan sebagai perempuan muda yang polos dan sangat pasif maka di dalam Chick Lit, perempuan digambarkan sebagai perempuan masa kini yang sangat menikmati kehidupannya sebagai perempuan lajang.

Chick Lit menggambarkan kehidupan masyarakat urban atau budaya urban yang bisa diterima oleh manusia di mana pun berada atau disebut juga global culture. Masyarakat urban cenderung memiliki gaya hidup yang mirip satu sama lain sehingga walaupun berbeda negara tetap saja memiliki kesamaan gaya hidup. Oleh karena itu, Chick Lit dapat dibaca oleh pembaca perempuan urban di mana pun berada. Perempuan urban di Jakarta tidak akan merasa asing dengan penggambaran kehidupan perempuan urban di New York, karena secara umum memiliki life style yang hampir mirip.

Pola dasar pertama pada Chick Lit, menggambarkan kehidupan perempuan lajang, usia sekitar 30 tahunan yang menikmati kehidupan pribadinya. Mereka tidak sukses dalam karier tapi tetap enjoy menjalani kehidupannya walaupun mereka merasa kesepian dan bertanya-tanya akankah menemukan pasangan yang bisa menjadi ayah bagi anak-anaknya. Para perempuan ini memandang kehidupan dengan lebih realitas, tidak ada cerita Cinderella yang menikah dengan pangeran, seperti yang terdapat di dalam novel roman. Para perempuan ini tidak berpikir untuk berjuang keras mendapatkan keinginannya, sehingga lebih santai dalam memandang realitas di sekitarnya. Pada akhirnya, mereka menemukan pasangan yang tepat dan pasangannya itulah yang menyelamatkan mereka dari karier yang tidak menyenangkan.

Pola dasar kedua pada Chick Lit, menggambarkan sosok perempuan lajang yang sukses di dalam karier dan suka berbuat sewenang-wenang. Karakter Jo, dalam Chick Lit New You digambarkan tidak feminin, keras kepala, mencintai diri sendiri, dan seorang pengguna obat-obatam. Tokoh Jocasta dalam Chick Lit Game Over digambarkan sebagai tokoh yang dingin, tidak bermoral, dan manipulative. Mereka tetap diselamatkan oleh laki-laki yang memiliki kepribadian yang berbeda dengan mereka. Para perempuan ini dibuat jatuh cinta dan percaya kepada pernikahan.

Ujung dari kebahagiaan novel roman, baik itu Harlequin, Mills & Bonn, dan bahkan Chick Lit adalah adanya akhir dari kebahagiaan bagi para perempuan yaitu pernikahan. Jika di dalam novel roman, pengalaman seksual bersama laki-laki adalah yang pertama dan yang terkahir tidak dengan Chick Lit yang rata-rata tokoh perempuan pernah mengalami kegagalan dalam mendapatkan pasangan hidupnya.

Di dalam sudut pandang post-feminis, Chick Lit merupakan penggambaran perempuan yang sudah mendapatkan apa yang diperjuangkan oleh kaum terdahulunya sehingga para perempuan kontemporer ini mendapatkan pendidikan, pekerjaan, dan perlakuan yang sejajar dengan laki-laki. Mereka pun seakan-akan lupa dengan perjuangan kaum perempuan terdahulunya sehingga mereka memperlakukan kehidupan keperempuanan mereka dengan santai tidak merasa perlu harus memperjuangkan sesuatu. Kesan perempuan slengean tanpa memperdulikan lingkungan sekitar tergambar kuat di dalam karakter tokoh-tokoh perempuan di dalam Chick Lit.

Follow: @raniyulianty

Tulisan ini hasil pembacaan artikel

Gill, & Herdieckerhoff. 2006. Rewriting The Romance:

New Femininities in Chick Lit?. Feminist Media Studies. 6(4).487-504

rani yulianty

Dulu sempat menulis buku anak dan sudah menerbitkan sekitar 100an buku anak. Sekarang masih menulis satu dua buku anak dalam setahun. Lagi asyik ngeblog dan menikmati kegiatan ngeblognya, mau diundang event hayu, dikasih job review oke, nulis review tanpa embel-embel pesanan dari brand juga suka, kok karena merasa puas dengan produk yang dipakai. Suka jalan, suka jajan, suka anak-anak. Blog tentang anaknya ada di www.ceritaanakbunda.com

You may also like...

5 Responses

  1. Rini Nurul Badariah says:

    Sayangnya banyak yang ‘menuduh’ roman pasti Harlequin, hehehe.

  2. kupretist says:

    kalo novel fiksi fantasi bagaimana?

    • tulisan saya dilihat dari sudut pandang kajian feminisme tentang perempuan yang muncul dalam Novel Roman dan Chicklit, novel fantasi bisa dibahas dalam tulisan berikutnya, makasih yaa…

  3. yup..makanya novel roman banyak mendapat kritisi dari pembacanya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *