Peduli Pak Raden

Teman-teman seusia saya saat ini tentunya masa kecilnya diisi dengan serial boneka si Unyil. Cerita bertema akulturasi dari berbagai multietnis yang menemani anak-anak setiap hari Minggu Pagi. Saat itu, hanya ada satu statsiun televisi dan acara hiburan untuk anak-anak pun sangat terbatas sehingga tayangan si Unyil ini sangat dinanti setiap pekannya.

Selama kurang lebih 12 tahun, tiga karakter utama serial boneka si Unyil yaitu Unyil, Ucrit, dan Usro. Tiga anak kecil dengan karakter yang unik. Di antara tokoh anak-anak tersbeut, ada juga tokoh dewasa yang karakternya sangat kuat melekat di dalam benak saya, yaitu tokoh dewasa Pak Ogah dan Pak Raden. Pak Ogah dengan kata-kata “Cepek, dulu,” meminta uang Rp100,00 pada setiap orang yang lewat pos ronda. Selanjutnya, karakter Pak Raden, seorang bangsawan yang sangat sayang dengan burung perkututnya dan sifatnya sangat pelit. Dia sering marah jika ada yang mencuri buah mangganya.

Sudah lama, serial boneka si Unyil tidak ditayangkan lagi. Anak-anak sekarang lebih mengenal tokoh-tokoh impor dari Jepang dan negara luar lainnya seperti Doraemaon, Sinchan, Dora, dan lain-lain. Anak-anak sekarang sudah tidak kenal dengan “si Unyil”. Akan tetapi, sang kreator dari serial dongeng ini masih ada. Dan sekarang, profilnya kembali diangkat di atas layar dengan berita beliau tidak mendapat royalti dari serial boneka si Unyil. Dialah Drs. Suryadi yang tidak lain adalah Pak Raden. Beliaulah yang kreator dari serial boneka si Unyil. Kecintaannya terhadap anak-anaklah yang sampai saat ini beliau masih terus berkarya. Beliau masih mendongeng dan menulis buku cerita anak-anak.

Banyak pihak yang peduli terjadap nasib Pak Raden. Beliau yang memiliki kontribusi besar pada anak-anak Indonesia (tentunya saat ini sudah pada dewasa) namun nasibnya kurang teperhatikan. Beliau sama sekali tidak mendapat royalti dari karyanya tersebut. Hal itu menimbulkan keprihatinan dari segenap masyarakat yang dulu merasakan manfaat dari karya beliau. Ada beberapa pihak yang berpartisipasi memberikan sumbangan dana kepada Pak Raden sebagai tanda terima kasih masarakat terhadap kontribusi Pak Paden.

Saya sangat senang berkesempatan bertemu dengan tokoh kreatif tersebut. Kecintaannya terhadap anak-anak masih sangat kuat. Di usianya yang sudah menua, beliau masih semangat untuk mendongeng. Saya kagum dengan semangatnya yang tinggi. Suaranya sama sekali tidak berubah, masih tetap sama, kuat, berwibawa dengan logat Jawa-nya yang khas. Beliau juga sangat cinta kebudayaannya hingga menulis buku cerita bergambar untuk anak-anak dengan tema pewayangan. Walaupun saya berkesempatan sebentar bertemu dengan beliau tapi saya merasa mendapat suntikan motivasi untuk berkarya. Kecintaannya terhadap anak-anak sudah menulari saya untuk tetap bersemangat berkreasi. Terima kasih, Pak Raden. Semangatmu sudah menulari saya, mungkin teman-teman lainnya yang pernah bertemu dan mengenalnya.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *