Review Film Horor Indonesia: Dilarang Masuk

credit: http://www.dilarangmasuk-themovie.com

credit: http://www.dilarangmasuk-themovie.com

Jujur. Saya bukan penggemar film horror Indonesia. Biasanya saya skip nonton film Indonesia dengan genre horor dan memilih film dengan genre drama atau komedi. Bisa dihitung dengan jari, deh jumlah judul film horor Indonesia yang pernah ditonton. Saya lebih suka menonton film horor Thailand dan Korea. Rasanya lebih menantang dari segi cerita. Namun, berhubung saya lagi butuh piknik saya coba deh nonton film horor Indonesia Dilarang Masuk yang sebenarnya baru rilis di bioskop bulan Maret. Bandung menjadi kota pertama film ini diputar di bioskop dalam rangka promo film dan penonton tidak dipungut biaya alias gratis. Pada acara nobar gratis yang digagas oleh Digital Film Media ini juga hadir sang produser Shanker R.S. Kesempatan tuh buat yang ingin jadi artis bisa hubungi langsung Pak Produser, hehehe…Beberapa pemain film ini juga hadir di antaranya Jordi Onsu dan Yova Gracia.
Saat akan menonton film, saya tidak punya prasangka awal apa-apa karena memang belum sempat browsing cari informasi film ini. Jadi saya memang berniat ingin enjoy aja nonton, ikuti jalan ceritanya. Ternyata, kursi di bioskop penuh dan kebanyakan didominasi oleh para ABG. Hehehe … nggak apa-apa, deh, emak-emak juga butuh hiburan. Cuma ya itu, efeknya suasana bioskop riuh banget dengan kicauan para ABG. Ya sudahlah emak mah tinggal nonton aja sambil kekepin jaket kalau hantu-hantuan nongol tinggal tutup muka pake jaket.
Setelah menonton film ini, saya jadi menyadari sesuatu, bahwa film horor Indonesia punya pola tertentu baik dari segi alur cerita, penokohan, musik, dan lain-lain. Seperti saya menemukan pola-pola tertentu dalam drama Korea. Duuh, maaf jadi ngomongin drama Korea, maklumlah emak-emak ini memang doyan nonton drakor. Walaupun sudah tahu pola-polanya tapi teuteup aja baper kalau udah nonton drakor. Hiksss…
Saya tidak tahu apakah pola yang saya temukan itu merupakan pakem ‘wajib’ dalam film horor namun yang pasti pola tersebut saya temukan di film Dilarang Masuk dan beberapa film horor Indonesia lainnya yang pernah saya tonton.
Alur Cerita
Alur cerita atau plot yang biasanya muncul dalam sebuah cerita biasanya seperti ini.
1. Tahap penyituasian
2. Tahap pemunculan konflik
3. Tahap peningkatan konflik
4. Tahap klimaks
5. Tahap penyelesaian
Alur cerita film Dilarang Masuk dimulai dari tahap penyituasian yaitu saat diperkenalkannya para tokoh yang terdiri atas tiga siswa dan tiga siswi yang tergabung dalam satu geng sekolah. Mereka suka kumpul-kumpul baik di sekolah maupun di luar sekolah. Di antara mereka ada seorang anak baru yang diajak bergabung untuk kumpul bersama geng.
Tahap pemunculan konflik dimulai saat si anak baru yang bernama Lisa itu tidak datang ke tempat mereka berkumpul. Bahkan keesokan harinya, dia dinyatakan hilang. Salah dari mereka –Adit—sempat merekam Lisa yang sedang berada di lantai atas sekolah. Padahal lantai atas sekolah merupakan daerah terlarang bagi siapa pun. Bahkan ada tulisan “Dilarang Masuk”.
Tahap peningkatan konflik muncul saat mereka berenam memutuskan untuk mendatangi lantai atas guna menacari Lisa. Mereka tidak menemukan Lisa malah menemukan banyak hantu siswa-siswi. Mereka juga bertemu dengan seorang guru misterius bernama Rumi. Walaupun mereka berhasil pulang ke rumah namun mereka tetap dihantui oleh penampakkan. Tidak hanya di sekolah tapi juga di rumah masing-masing mereka didatangi oleh penampakkan hantu hingga mereka ketakutan.
Tahap klimaks yaitu saat mereka berenam memutuskan untuk kembali mendatangi lantai atas. Mereka kembali harus berurusan dengan para hantu yang mengejar-ngejar mereka. Mereka pun bertemu kembali dengan Bu Rumi yang ternyata adalah hantu yang penuh dendam.
Tahap penyelesaian terjadi saat mereka menemukan buku harian Bu Rumi. Salah satu dari mereka pun dirasuki dan mendapatkan penglihatan mengenai apa yang terjadi pada Bu Rumi dan para siswa di sekolah yang menjadi hantu. Mereka pun kemudian menemukan Lisa yang sudah menjadi mayat. Keesokan harinya sekolah gempar dengan ditemukannya mayat Lisa di lantai atas. Ternyata Bu Rumi memiliki dendam terhadap ayah Lisa yang sudah meninggalkannya saat dia hamil. Dendam Bu Rumi terbalaskan dengan meninggalnya Lisa dan ayah Lisa yang terjun dari lantai atas.
Pola alur cerita seperti di atas memiliki kemiripan dengan alur-alur cerita film horor yang pernah saya tonton yaitu diawali dengan tahap penyituasian yang membawa penonton melihat situasi awal cerita lalu dibawa ke pemunculan konflik yang memperlihatkan bagaimana para tokoh (biasanya berkelompok) mendatangi tempat angker (film ini lantai atas sekolah) bisa sebuah bangunan, sekolah, rumah sakit, hutan, dan lain-lain. Lalu, mereka berhasil keluar dari tempat angker tapi masih tetap dihantui. Mereka mencoba menyelesaikan masalah dengan kembali mendatangi tempat angker tersebut. Lalu, mereka berhasil menguak misteri tempat angker tersebut dan secara otomatis menyelesaikan masalah perhantuan mereka.
Penokohan
Untuk film horor Indonesia biasanya para tokohnya membentuk kelompok yang terdiri dari beberapa orang laki-laki dan perempuan. Mereka memiliki beragam karakter, ada yang memiliki karakter lucu alias ngocol, karakter pintar, karakter pemimpin, karakter tukang makan, karakter setia kawan, dan karakter-karakter lain yang coba dijalinkan dalam alur cerita. Para karakter yang berbeda-beda tersebut dapat menghidupkan jalinan cerita. Tidak jarang di antara para tokoh yang tergabung dalam kelompok itu merupakan pasangan kekasih.
Saya lihat karakter lucu yang diperankan oleh Jordi Onsu dalam film ini berhasil menghidupkan film dengan banyolan khasnya dengan bahasa Thailand. Buktinya para penonton berhasil dibuat tertawa ngakak melihat akting Jordi Onsu ini. Akting Jordi ini diimbangi oleh akting Jova yang berperan sebagai pacar Jordi. Karakter Jova digambarkan seorang penakut, manja, dan doyan makan. Karakter lainnya yang cukup kuat yaitu tokoh Shila yang memiliki karakter setia kawan dan cerdas. Lalu, ada tokoh Adit yang memiliki karakter pemimpin, selalu ingin tahu, dan kreatif.
Di antara tokoh-tokoh anak muda tersebut juga ada tokoh dewasa yaitu karakter security galak tapi lucu bernama Bang Jon, karakter Bu Rumi yang misterius, juga karakter orang tua Lisa. Para karakter dewasa tersebut ada yang berinteraksi interaksi dengan tokoh muda ada juga yang interaksinya tidak banyak. Karakter Bang Jon cukup intens berinteraksi dengan para tokoh muda ini terutama saat penguakan misteri lantai atas dan adegan kejar-kejaran dengan hantu.
Musik
Seperti halnya film horor lainnya, musik dan backsound sangat menentukan kehororan sebuah film. Saat adegan menepuk pundak saja bisa jadi adegan yang menakutkan dan mengagetkan karena adanya suara horor. Hal itu terbukti dengan jeritan kekagetan penonton ABG di sebelah saya yang tidak bosannya jejeritan saat mendengar suara seram dari film. Hahaha … kalau saya sih adem ayem aja, kalau takut tinggal tutup muka. Saya pikir, suara-suara yang mengagetkan memang sudah merupakan pakem wajib dalam sebuah film horor, jadi yah tidak usah dibahas banyak, yang jelas dari segi musik cukuplah membuat kaget. Hahaha…
Setting
Untuk setting pun cukup seramlah. Apalagi ini sekolah yang memang kalau dilihat dari gedungnya sudah cukup tua. Apalagi setting lantai atas cukup menyeramkan dengan ruangan-ruangan kosong yang diisi oleh bangku-bangku rusak. Menurut saya pribadi, tanpa cerita hantu, sebuah sekolah pada malam hari sudah cukup menyeramkan apalagi kalau ditambah dengan cerita hantu. Soalnya saya pernah tinggal di rumah yang dekat dengan sekolah. Kalau malam terasa sepi banget.Hiiyyy… sereeem.
Saat adegan-adegan penampakkan hantu di rumah masing-masing juga tampak seram padahal rumah-rumah para tokoh tersebut rumah yang bagus dan sama sekali tidak seram. Oh iya, saya suka setting saat mereka di kamar masing-masing, tampak natural, seperti kamar ABG kebanyakan, berantakan.
Properti
Saya menggarisbawahi banget unsur properti dalam film ini terutama gadget yang dipakai oleh enam sekawan ini. Aduuh, sungguh membuat emak ini mupeng. Gadget mereka keren-keren, ada laptop Mac Pro, ipad, dan lain-lain. Mereka pun kalau ngobrol skype-an. Oh how old iam … properti yang mereka pakai menggambarkan betapa anak muda sekarang udah canggih-canggih, mereka dibekali oleh alat-alat yang memudahkan hidup mereka banget. Hehehe …

Unsur Komedi
Jujur, yang membuat saya bisa menikmati film ini adalah unsur komedi yang bertebaran mulai dari awal cerita sampai akhir cerita. Tokoh yang diperankan oleh Jordi Onsu berhasil membuat saya ngakak karena ekspresi dan bahasa Thailand-nya. Ditambah tokoh Bang Jon yang juga lucu karena kelebayannya. Adegan lucu pun muncul saat tegang dikejar hantu. Saat mereka dikepung oleh para hantu, mereka berhasil meloloskan diri dengan melakukan tarian dengan gerakan lucu. Para hantu cuma bisa melongo melihat mereka menari dan membiarkan mereka pergi.
Simpulan
Buat kamu yang ingin seseruan dan santai tidak diburu oleh mimpi buruk, film ini layak tonton. Hahaha … cukup menghibur dengan unsur komedinya. Para hantunya juga tidak menakutkan jadi dijamin nggak bakal mimpi buruk. Soalnya saya terus kebayang Sadako setelah nonton filmnya, makanya agak hati-hati kalau mau nonton film horor.
Dari segi cerita cukuplah walaupun tidak bisa dibilang keren banget atau bagus banget, hehehe hanya saja penyelesaian konflik seakan dipaksakan dan terburu-buru. Mungkin karena ingin memperbanyak porsi kejar-kejaran hantu dan membuat penonton jantungan dengan penampakkan-penampakkan hantu yang aduhai. Hahahaha…

Para pemain film :
Maxime Bouttier
Sahila Hisyam
Jordi Onsu
Reymon Knuliqh
Rayn Wijaya
Yova Gracia
Jessica Torsten
Monica Oemardi
Denny Martin
Audia Shavira
Nita Soraya

rani yulianty

Dulu sempat menulis buku anak dan sudah menerbitkan sekitar 100an buku anak. Sekarang masih menulis satu dua buku anak dalam setahun. Lagi asyik ngeblog dan menikmati kegiatan ngeblognya, mau diundang event hayu, dikasih job review oke, nulis review tanpa embel-embel pesanan dari brand juga suka, kok karena merasa puas dengan produk yang dipakai. Suka jalan, suka jajan, suka anak-anak. Blog tentang anaknya ada di www.ceritaanakbunda.com

You may also like...

3 Responses

  1. Euisry Noor says:

    Kilat, udah tayang aja reviewnya. Tadinya deg-degan sebelum nonton ini takut ada efek samping jadi takut sendirian. Tapi syukurlah, berkat jaket yg tiap hantu nongol aku tutupin ke muka ternyata baik2 saja :D.

  2. Virgin says:

    Mbak boleh mendapat no kontak yg bisa dihub? Terima kasih

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *