Saat Menjadi Silent Reader di Grup Whats App

grup-whats-app

 

Saat Menjadi Silent Reader di Grup Whats App. Semenjak  smartphone android booming, aplikasi pesan instan untuk smartphone pun makin digandrungi. Saat siapa sih yang tidak menggunakan aplikasi pesan instan yang diciptakan oleh Brian Acton dan Jan Koum ini. Sebenarnya, selain Whats App, ada beberapa aplikasi pesan instan lainnya yang punya penggemar tersendiri seperti BBM, Messenger, dan Line. Tapi, sepertinya seiring dengan menurunnya pamor smartphone BB, BBM pun mulai ditinggalkan. Sementara Line sepertinya lebih digandrungi oleh remaja.

Fitur-fitur dalam Whats App memang cenderung lebih ringkas dengan kemampuannya untuk mengirim pesan teks dan bergambar, kirim file, kirim emoji, dan membuat grup. Nah, fitur grup Whats App ini sepertinya jadi salah satu fitur favorit. Kerap kali, satu orang tergabung dalam beberapa grup Whats App. Ada grup alumni SD, SMP, dan SMA, grup kantor, grup ibu-ibu seerte, grup ibu-ibu pengajian, grup arisan, grup sekolah anak (TK, SD, SMP, SMA), grup keluarga, grup aneka job (bagi bloger, influencer, buzzer biasanya dicemplungin ke grup untuk koordinasi), grup-grup komunitas, dan masih banyak grup-grup lainnya.

Begitu pun saya, saya yang jarang bisa melakukan pertemuan secara offline, sering bergerilya secara online di beberapa grup komunitas. Tidak jarang, saya berinteraksi dengan teman-teman satu grup tapi sama sekali belum pernah bertemu secara offline. Tapi, asalkan bisa menjaga komunikasi dengan baik, sepertinya zaman sekarang hal tersebut tidak jadi masalah. Tapiiiiii…. bergabung dalam beberapa grup membuat saya bisa melihat bahwa setiap grup itu unik, punya karakteristik sendiri, dan punya peraturan sendiri.

Pada masa awal-awal bergabung dengan sebuah grup, saya biasanya tidak langsung berinteraksi, saya mengamati terlebih dahulu dan memelajari karakteristik grup tersebut dengan menjadi silent reader. Saat menjadi silent reader itu, biasanya saya mengamati dan memelajari karakter sebuah grup, sebaiknya saya membicarakan apa dalam grup tersebut, bagaimana respon teman lainnya di dalam grup. Hahaha, kebanyakan mikir ya, tapi saya memang cukup berhati-hati, karena tidak jarang karena jempol yang terpleset di keyboard mengakibatkan perselisihan secara online bahkan bisa berkembang secara offline.

Ada sebuah grup yang menghendaki semua anggotanya berinteraksi sehingga akan mengeluarkan anggotanya yang jarang berinteraksi atau silent reader. Menurut saya, kalau itu memang peraturan dalam grup tersebut ya tidak jadi masalah. Sebagai anggota, mungkin sebaiknya mengikuti peraturan dalam grup baik secara tertulis maupun tidak.

Setelah beberapa saat bergabung dalam berbagai grup Whats App, saya menyimpulkan ada beberapa hal yang sebaiknya dilakukan dan tidak dilakukan, di antaranya yaitu.

  1. Memperkenalkan diri jika baru bergabung dalam sebuah grup, agar teman-teman lain yang ada dalam grup tahu siapa “Anda”, jika itu sebuah grup komunitas blog, perkenalkan alamat blog, akun media sosial, dan lain-lain.
  2. Jelaskan diri secara singkat, dan tidak berlebihan.
  3. Dalam sebuah percakapan, dan akan nimbrung sebaiknya perhatikan alur obrolan tersebut, jika bisa masuk, masuklah, tetap dengan bahasa yang baik dan komunikatif.
  4. Sebaiknya tidak memperlihatkan “Ini Gue” “Gue ini pintar” karena dalam pertemuan offline biasanya orang yang “Ini Gue” akan kurang diterima apalagi jika percakapan online yang tidak melihat secara langsung mimik wajah dan gesture.
  5. Tidak mengirim gambar-gambar yang tidak sopan, meme-meme yang menyinggung dan bisa menimbulkan perdebatan dalam grup, serta video yang penuh dengan adegan kekerasan atau adegan kurang baik, kecuali dalam grup tersebut memilki kecenderungan yang sama.
  6. Tidak memancing perdebatan (biasanya jika share berita hoax, berita tentang politik, dll)
  7. Sebisa mungkin mengikuti peraturan dalam grup, jika ada peraturan tertulis, baca baik-baik, jika tidak ada peraturan tertulis, pelajari karakter grup tersebut.
  8. Jika ingin membagikan info pekerjaan (share job) sebaiknya izin kepada admin grup terlebih dahulu karena jika ada persoalan terkait pekerjaan tersebut kadang pelamar kerja menyalahkan grup tersebut padahal admin grup tidak tahu apa-apa.
  9. Jika merasa grup Whats App tidak bermanfaat dan hanya bikin hape ngehang bin lelet, tidak masalah kok jika mau keluar dari grup tapi sebelumnya sebaiknya berpamitan kepada admin grup atau anggota grup lainnya.
  10. Jika terjadi perselisihan di dalam grup, atau ada si A membicarakan si B, alangkah tidak baiknya jika mengcapture hal tersebut dan menyebarkannya keluar grup. Hal tersebut bisa memancing keributan yang lebih besar. Hal ini saya sebutkan karena pernah terjadi di sebuah grup. Sayang sekali khan jika keributan yang bisa diredakan malah makin membesar karena hal tersebut.

Itu kira-kira hal yang saya dapatkan dari bergabung di beberapa grup Whats App. Saat ini saya pun masih dalam tahap belajar bersosialisasi secara online. Sosialisasi secara online di grup memang sangat riskan terjadi salah faham karena tidak melihat gesture tubuh dan mimik wajah, selain itu jempol pun sering terpeleset karena emosi sesaat. Semoga bermanfaat dan jika ada yang ingin menambahkan dipersilakan di kolom komentar.

rani yulianty

Dulu sempat menulis buku anak dan sudah menerbitkan sekitar 100an buku anak. Sekarang masih menulis satu dua buku anak dalam setahun. Lagi asyik ngeblog dan menikmati kegiatan ngeblognya, mau diundang event hayu, dikasih job review oke, nulis review tanpa embel-embel pesanan dari brand juga suka, kok karena merasa puas dengan produk yang dipakai. Suka jalan, suka jajan, suka anak-anak. Blog tentang anaknya ada di www.ceritaanakbunda.com

You may also like...

21 Responses

  1. Jadi ada etikanya ketika menjadi silent reader yahh mbak,
    Dan nggak semua grup juga silent reader, kek yg mbak Rani bilang,
    Ada kalanya ada grup tertentu yg ngobrolnya lebih fair gitu saat ngobrol secara enjoy, hihii
    Tapi penting banget sih buat mematuhi peraturan di grup hehee
    TFS yahhh Mbakk

  2. Iya bener banget mbak, sekarang perselisihan gak cuma terjadi di dunia nyata tetapi dunia online pun rentan. Bahkan karena kita gak tau raut wajah yang sedang mengetik terkadang bisa aja bikin punya pemikiran sendiri sama orang. Intinya sih pinter-pinter nahan jempol untuk tidak mengeluarkan kalimat yang bikin orang membacanya jadi tersinggung.

  3. Zefy says:

    Memang diakui meski grup WA itu online tetapi harus ada etikanya juga. SUdah banyak yang ribu gara-gara grup WA, ntah kejadian disengaja atau tidak disengaja. Contohnya saja soal eluar dari grup, itu bisa jadi heboh saat ada yang tiba-tiba keluar dari grup tanpa pamit

  4. Witri says:

    aku ikut bergabung beberapa grup WA Mbak, kita ada yang segrup kan? hehehe
    Tapi aku memang banyakan diem, bukan apa sih karena kadang sok sibuk di kantor atau terlambat ikut obrolan.
    dan aku setuju sih sama tips2 Mbak Ranny di atas, kayak jangan share meme, berita hoax, izin admin, dlln. Karena jujur saja, enggak sedikit yang bermusuhan lantaran dari grup WA.

  5. Ririe Khayan says:

    Belakangan ini, saya juga lebih banyak silent reader di WAG. Termasuk di WAG kantor, gagap kalau mau nimbrung dlm percakapan yang sudah banyak. Kalau di WAG blogger, ikut drop link ketika merasa ingin blogpost ada yg BW in.

  6. Saya hanya aktif di WAG kuliah. Di situ bebas banget mau komen apa pun, bahas apa pun, asal bukan pornografi. No heart feeling deh kalo dikomentarin apa pun. Cuek aja saling kritik atau ledek. Makanya grup ini terus sejak dibuat tahun 2011.hehehe

  7. Saya punya grup WA yang lumayan banyak. Kalau harus aktif di semua grup, kayaknya gak akan sanggup. Jadi lebih baik jadi silent reader aja. Kalau ada berita duka, baru muncul memberi ungkapan turut berduka.

  8. April Hamsa says:

    Hihii iya kdng suka ada yang left grup gak pamit. Tapi itu antara gak sengaja kepencet kali ya haha.
    Aku jg liat2 wagnya kyk apa, kdng msh bertahan krn emang pengen tahu info terkini dll. Tapi kalau dah eneg banget ya out aja 😀

  9. Baca judulnya, kirain akan fokus membahasa tentang ‘bagaimana menjadi silent reader’ – nya.

    Dari 10 poin yang disampaikan, nomor 10 sih yanf paling ngeselin. Dan 10 poin itu, dengan mengubah sedikit kalimat, bisa juga menjadi tips untuk bersosialisasi offline kok.

    Intinya, baik online atau offline, etika berkomunikasi di dalam kelompok, lebih kurang sama sih 🙂

  10. yang main screen shot dan disebarluaskan ini yang sering terjadi oleh beberapa oknum yang ingin perpecahan, hahahaha. Memang tujuan adanya grup kan mengumpulkan orang-orang yang sehaluan, tinggal potong ego masing-masing aja lagi.

  11. Tika Samosir says:

    Aku juga begitu mba. Saat bergabung dalam sebuah goup whatsapp suka silent reader dulu. Karena mau nimbrung juga mesti lihat-lihat tema yang dibicarakan.
    Tapi memang rada gak enak juga ngobrol apalagi dalam groupnya high class

  12. lendyagasshi says:

    Aku pernah teh..
    Becandaan di grup kajian.
    Ga parah siih..tapi kan grup kajian gittu…

    Ternyata,
    Aku gak tau kalau salah satu anggotanya adalah Ustadzah yang biasanya mengajar kami.

    Hadeeuu~
    Malu banget rasanya…

  13. Terima kasih atas tips’a dalam berkomunikasi melalui instant messaging. Aku juga sih lebih sering jadi sider (silent reader) karena gak mau gegabah juga menanggapi segala obrolan atau chat*

  14. ruziana ina says:

    sama kita mba
    sering jadi silent rider di grup WA apalagi yang banyak anggotanya
    paling malas grup WA banyak yg kirim meme dan info yang tidak sesuai konteks grup
    bahkan grup grup alumni jg saya malas tanggapin klu isinya unfaedah

  15. MangCara says:

    Kalau saya tergantung WAG apa yang diikuti kalau memang grup nya berasal dari orang yang sudah kenal celatuk celetuk aja kalau komen karena sudah tau karakter, tetapi kalau masuk WAG yang belum kenal saya lebih baik silent reader dulu takut salah ketik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *