Yuk, Menjadi Pengusaha Sejak Usia Muda!

TEXT

Yuk, Menjadi Pengusaha Sejak Usia Muda! Saya hidup dan tumbuh kembang dalam keluarga yang terbiasa mendapatkan penghasilan bulanan tetap setiap bulannya. Bapak seorang pegawai negeri yang memang setiap bulannya mendapat gaji untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Sebenarnya gajinya tidak besar, oleh karena itu selain sebagai pegawai negeri sipil, Bapak juga sibuk cari tambahan. Namun, tetap saja, fokus penghasilan utama adalah dari gaji sebagai PNS. Sehingga, saya sendiri terbiasa berada di zona nyaman yaitu yakin walaupun kondisi pas-pasan, tetap pada awal bulan akan mendapat gaji. Sehingga pola pikir yang terbentuk dalam diri saya adalah menjadi pegawai yang memang memiliki penghasilan tetap. Tidak terpikir sedikit pun oleh saya bahwa saya akan berbisnis.

Namun, ternyata hidup itu memang sulit untuk ditebak. Ternyata menjadi pegawai yang berpenghasilan tetap sekalipun tidak menjamin kesejahteraan hidup. Apalagi, keadaan ekonomi sekarang yang jauh berbeda dengan perekonomian pada saat saya masih kecil. Laju perekonomian saat ini bergerak sangat cepat dan tidak stabil. Banyak yang yang bisa terjadi dan persaingan pun semakin ketat. Apalagi sekarang sudah ada MEA atau Masyarakat Ekonomi Asean alias MEA. Sudah siapkah saya dan umumnya masyarakat Indonesia menghadapi MEA? DAlam sebuah video riset yang saya tonton, ternyata masih banyak masyarakat yang tidak tahu apa itu MEA. Jangankan siap menghadapi MEA, tahu apa itu MEA saja tidak tahu. Apalagi menghadapi tantangan yang harus dihadapi dengan adanya MEA. Padahal mayoritas responden yang diwawancara adalah anak muda yang seharusnya lebih melek informasi terkini. Fiuuuhh …

Dengan adanya MEA tentunya persaingan di negara-negara Asean semakin ketat karena sudah bebasnya persaingan perekonomian antarnegara di Asean.  Sudah tentu hal ini berdampak pada pasar bebas juga di bidang sumber daya manusia. Sanggupkah masyarakat Indonesia bersaing dengan tenaga-tenaga ahli dari negara lain di Asean. Sebenarnya, MEA merupakan peluang bagus jika kita siap menghadapinya karena dengan MEA peluang untuk mendapatkan modal dari investor asing sangat terbuka lebar. Namun, saat itu juga perputaran barang dan tenaga kerja jadi semakin terbuka sehingga kompetisi tenaga kerja semakin ketat. Coba bayangkan bagaimana jika sektor-sektor industri di Indonesia dipenuhi oleh tenaga asing. Lalu bagaimana dengan masyarakat Indonesia? Apa hanya jadi penonton kemeriahan MEA dan hanya bisa menggigit jari karena kualifikasi kita kalah dari negara lain.

Salah satu masalah yang saat ini masih menjadi kendala bagi perkembangan perekonomian di Indonesia yaitu tingginya tingkat pengangguran intelek. Artinya mereka yang menganggur bukanlah tidak punya pendidikan malah mereka yang menyelesaikan pendidikan sarjana. Kalau secara logika seharusnya yang menganggur itu yang tidak berpendidikan karena orang sekolah tinggi umumnya karena ingin mendapatkan pekerjaan yang layak. Namun, faktanya ternyata sekolah sampai tingkat sarjana tidak menjadi jaminan akan mendapatkan pekerjaan. Bahkan, angka pengangguran intelektual cukup tinggi. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan bahwa penduduk bekerja yang berpendidikan SD ke bawah cukup besar yaitu 45,19%. Lalu bagaimana dengan mereka yang berpendidikan sarjana? Ternyata menurut data BPS, lulusan sarjana yang bekerja hanya sebesar 8,29%. Itu artinya, lapangan pekerjaan di Indonesia belum bisa menyerap tenaga kerja lulusan sarjana sehingga masih banyak lulusan sarjana yang menganggur.

Melihat kenyataan tersebut rasanya tidak baik jika kaum muda hanya diam dan meratapi nasib atau mengeluh kepada pemerintah yang belum mampu menyediakan lapangan kerja bagi lulusan sarjana. Para kaum muda seyogyanya bisa berpikir kreatif dan mencoba zona baru sebagai karyawan. Tidak lagi bermimpi menjadi karyawan, pegawai, atau PNS. Hal itu untuk bisa bersaing dalam persaingan yang semakin ketat dalam perekonomian negara-negar a Asean. Salah satunya menjadi pengusaha. Rasanya menjadi pengusaha bukanlah pilihan yang tidak mungkin. Dengan bekal ilmu selama masa kuliah, menjadi pengusaha bisa dilakukan. Saat ini pun terbukti sudah mulai banyak pengusaha-pengusaha muda yang menampakkan jati dirinya. Di usia muda mereka sudah mampu memiliki penghasilan sangat besar dengan menjadi pengusaha.

Menjadi pegusaha atau wirausaha sangat mungkin dilakukan bahkan mampu mencuptakan jenis usaha yang bervariasi. Apalagi saat ini sudah didukung oleh teknologi informasi yang berkembang sangat cepat sehingga memungkinkan untuk membuka usaha dengan modal yang terbatas. Tidak harus memiliki modal besar untuk menjadi pengusaha, asalkan dengan kemauan keras tentunya akan bisa menjalankan udaha. Menjadi wirausaha juga bisa membuka lapangan pekerjaan baru sehingga bisa mengurangi tingkat pengangguran. Tentu saja dapat meningkatkan perekonomian masyarakat Indonesia.

Perkembangan teknologi informasi yang begitu cepat juga memungkinkan terbentuknya komunitas pengusaha yang berpikir kreatif dan inovatif. Salah satunya AMPUH  (Anak Muda Punya Usaha) yang merupakan komunitas anak muda yang mulai berwirausaha. Komunitas ini didukung oleh Program Indonesia Enterpreneurship Initiative atau IEE dan SuperSoccer TV. Fokus usaha yang dilakukan oleh program AMPUH  (Link Affiliate – baca disclosure) yaitu segala usaha yang berkaitan dengan olah raga sepak bola. Usaha ini melibatkan komunitas anak muda yang kreatif. Dengan adanya program AMPUH diharapkan semakin banyak anak muda yang memulai menjadi pengusaha. Rasanya menjadi pengusaha bisa menjadi peluang untuk meningkatka perekonomian dan keluar dari lingkaran masalah pengangguran. Sebagai anak muda yang kreatif lebih baik bertindak daripada berkeluh kesah akibat tidak mendapatkan pekerjaan. Dengan menjadi pengusaha, anak muda bisa menjadi pemimpin dalam perekonomian masa depan di Indonesia. Yuk, Menjadi Pengusaha Sejak Usia Muda!

 

rani yulianty

Dulu sempat menulis buku anak dan sudah menerbitkan sekitar 100an buku anak. Sekarang masih menulis satu dua buku anak dalam setahun. Lagi asyik ngeblog dan menikmati kegiatan ngeblognya, mau diundang event hayu, dikasih job review oke, nulis review tanpa embel-embel pesanan dari brand juga suka, kok karena merasa puas dengan produk yang dipakai. Suka jalan, suka jajan, suka anak-anak. Blog tentang anaknya ada di www.ceritaanakbunda.com

You may also like...

11 Responses

  1. Yati Rachmat says:

    Bagi perempuan kini semakin marak saja Entrepreneur dalam bidang pakaian muslim dan tetek bengeknya. Pilihan usaha memang beragam. Salut kepada anak-anak muda yang mau sesegera mungkin menjadi pengusaha tanpa mengandalkan Pemerintah untuk mengadakan lahan atauu bidang usaha bagi para lulusan sarjana. Postingan Rani mampu menginspirasi kaum muda untukk berkreasi.

  2. pengusahawanita says:

    iyah, dengan internet, semua orang bisa menjadi pengusaha dan mencari uang dengan mudah. bahkan dengan 0 modal sekalipun 😀

  3. Jarhie says:

    Mumpung masih muda nih, harus segera memikirkan usaha apa yang paling pas

  4. Opickaza says:

    Salam kenal dri sya, tulisannya mengena banget bagi sya yg lulusan sarjana dan skrng nganggur gak jelas apa kerjaaannya, lanjut S2 juga smpai sknrg masih hidup kurang jelas nggak taw entar mau jadi apa, yg penting tetap menjalani hidup mengalir apa adanya

  5. dan memang menjadi pengusaha membawa banyak manfaat..apalagi jika bisa lakukan sejak usia muda

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *